Siapa sangka, hidupku yang begitu dipenuhi oleh kebisingan kakak laki-lakiku kini telah berbeda 180 derajat. Ya, abangku kini tak lagi di rumah. Setelah diterima di PTN terbaik Indonesia (Universitas Indonesia), ia memutuskan untuk tinggal di kos-kosan di sekitar wilayah UI.
Ahh, aku sampai lupa untuk mengenalkan diri karena terlalu bersemangat menceritakan kakak laki-lakiku yang menyebalkan itu. Hai, semuanya! Aku Iliana. Panggilanku tidak jauh dari Ili, Ili, dan Ili. Entahlah, mengapa orang di sekitarku sungguh tidak kreatif dalam memanggil namaku.
Oke, kembali lagi tentang abangku. Panggil saja dia Ben. Walaupun memiliki nama asli Bintang, ia lebih nyaman dipanggil sebagai Ben, "lebih menggambarkan diriku," katanya. Aku dan abangku berbeda 6 tahun, cukup jauh. Dan itulah yang membuat hubunganku dengan abangku tidak begitu buruk karena kami melihat satu sama lain secara berbeda, yang menyebabkan timbulnya rasa "melindungi dan dilindungi".
Seperti kata orang, hubungan kakak beradik sangat tidak jarang yang cukup buruk, dalam artian ada yang tidak begitu dekat sehingga kurangnya perhatian satu sama lain. Tapi, hubunganku dengan abangku jauh dari itu. Memang ada kalanya kami bertengkar dan tak mau berbicara satu sama lain. Tetapi, dalam kegiatan sehari-hari, kami cukup peduli satu sama lain. Tak jarang juga kami membanggakan satu sama lain kepada orang lain. Misalnya, di saat abangku mendapatkan pengumuman lolos UI, mungkin ada sebulan penuh aku membanggakan abangku kepada teman-temanku. Begitu pun dia yang hobi memamerkan karya-karyaku kepada temannya dan di media sosialnya.
Abangku termasuk salah satu orang hebat yang pernah aku kenal. Ia sangat cerdas, terutama semasa SMA. Ambisinya untuk masuk PTN dengan segala usaha akhirnya tercapai. Sedangkan aku, mengerjakan tugas biasa pun malas-malasan. Tidak jarang aku minta diajarkan oleh abangku. Walaupun terkadang memang benar-benar mengajariku, tetapi ia lebih sering memberikan syarat yang tak masuk akal dan beralasan agar tidak benar-benar mengajariku.
Sayangnya, semua cerita tentang abangku yang telah kalian baca dari tadi hanyalah karanganku. Ya, aku tidak memiliki abang yang baik, konyol, pintar, dan mengayomi seperti itu. Lebih tepatnya, aku tidak punya satu pun abang maupun kakak perempuan. Justru akulah "sang kakak" itu.
Dengan menulis blog ini, aku menjadikannya sebagai tempat untuk menuangkan segala angan-anganku memiliki seorang kakak, yang mana, mau menunggu selama apa pun, aku tidak akan pernah mendapatkan dan merasakan kehadiran seorang kakak di kehidupan ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar