2/08/2008

Budaya Massa Sebagai Hegemoni Baru

"Tidak percaya apapun yang

kami menginginkan kamu tidak percayai,

tidak berpikir apapun yang

kami menginginkan kamu tidak berpikir."

Demikian bunyi sebuah pamplet di pojokan kota Berlin 1939, masa rejim Fasisme Jerman. Kata-kata itu berasal dari Dr. Goebbels, Menteri Penerangan dan Propaganda Masyarakat pada saat itu.

Dari pamplet itu ada sebuah simbol, tentang sebuah kampanye, bahwa ideologi Fasisme sedang terus-menrus disuntikkan pemerintah secara massal ke dalam alam pikir dan ruang kebudayaan masyarakatnya. Dan ikon-ikon pun menjadi bagian dari propaganda, barisan tentara-tentara yang gagah berani, kebanggaan atas sebuah gen terbaik dan heroik, lambang Swastika, anti semitisme, adalah gelombang yang mengepung masyarakat jerman saat itu. "Ein reich! Ein volk! Ein fuehrer!" Bukan sekedar teriakan menggelegar Sang Adolf 'Fuehrer' Hitler yang begitu percaya diri tentang sebuah 'Perjuangan Kita', tetapi lebih dari itu, ia adalah sebuah proses hegemoni. Benar Leon Trotsky, dalam tulisannya "What Is Proletarian Culture, and Is It Possible?" (1923) ia mengatakan bahwa setiap kelas yang berkuasa pasti menciptakan budayanya sendiri. Setiap kekuasaan pasti akan menciptakan peradaban yang resultan dengan kekuasaannya itu sendiri. Perbudakan di Timur, keantikan di era klasik, feodalisme dan borjuisme eropa adalah kanal-kanal sejarah yang begitu jelas bahwa kekuasaan selalu meninggalkan budaya yang hegemonik. Jerman tidak sendirian. Mengawal tahun empatpuluhan bagi para jendral, pemuda, anak-anak hingga ibu rumah tangga di Italia adalah "Credere! Combarette! Obedire!" (Percaya, perang dan patuh). Fasisme bagi Musollini, bukan sekedar kepercayaan, Fasisme adalah sebuah agama. Dengan 'kandang besi' itu ia bisa menarik psikologi massa dengan sebuah impian bahwa kelak Italia menjadi sebuah bangsa besar dan penguasa dunia.

Fasisme boleh tumbang, Jerman dan Italia boleh kalah perang, tapi keduanya tak akan pernah dilupakan Eropa tentang sebuah ketakutan abadi dan sejarah Genocides yang tak selesai dikenang orang. Meskipun kini Fasis! tidak lebih hanya sebagai kata makian.

Di Indonesia, meski tidak se-ekstrem itu, proses budaya masa lampaunya juga meninggalkan hal yang sama. Raja-raja Jawa adalah penguasa mitos bagi para kawula, titah dan budayanya adalah kepatuhan. Baik dan buruk, boleh dan tidak boleh, sakral dan profan, adalah barang-barang produksi keraton yang harus di yakini dan di jalankan masyarakatnya. Sehingga ada sebagian dari mereka yang siap menjadi abdi dalem dan para selir, atas keyakinan bahwa pengabdian mereka terhadap raja dan sanak keluarganya adalah sesuatu kemuliaan. Raja-raja Cina juga tidak jauh berbeda, di sana para pemuda yang siap menjadi Kasim datang bersama bapaknya menghadap sang raja, menyerahkan buah kelaminnya yang telah di kebiri. Mereka siap menjadi abdi rumah tangga istana dengan tanpa kelamin, agar leluasa membersihkan kamar mandi puteri dan kamar persetubuhan sang raja.

Setiap kekuasaan selalu melahirkan budayanya sendiri. Dan kebudayaan menjadi hal ihwal yang sepanjang sejarah selalu tarik-menarik dan melahirkan benturan-benturan untuk saling menghegemoni. Mistisme Timur dan Rasionalitas Barat tak usai menimbulkan prasangka, Timur bagi Barat adalah sebuah negeri yang pasif, tradisional, spiritual, dan Barat selalu menganggap dirinya sebagai negeri yang aktif, progressif, materialistis (Iwan Nurdaya-Djafar, Lampost 9/3/2003). Proletarisme dan Borjuisme juga saling menempatkan diri sebagai antitesa satu sama lain. Borjuisme bagi Proletarisme adalah masyarakat kelas yang menindas dan mengeksploitasi, sementara Proletarisme dalam stereotip orang Borjuis adalah orang-orang feodal yang radikal, yang mengancam kebebasan. Perbedaan yang dikotomik itu kadangkala berperang untuk sebuah hegemoni dan masing-masing berusaha untuk menciptakan tatanan dunia idealnya masing-masing.

Dan persoalannya, apakah kebudayaan itu akan runtuh seiring dengan runtuhnya kekuasaan. Seperti runtuhnya tembok Berlin dan revolusi Perancis. Seperti sosialisme yang tidak bisa dianggap mati begitu saja seiring dengan kehancurannya sebagai penguasa di Eropa Timur. Alvin Toffler (Ikon, 2002 : 66) mengatakan, derita berdarah dari Bucharest ke Baku sampai Beijing tidaklah berarti membuat sosialisme juga berakhir. Baginya sosialisme berbenturan dengan masa depan. Seperti halnya juga keraton Surakarta dan Yogya, yang boleh untuk tidak punya kekuasaan secara politik, tapi tidak untuk budaya.

Meski bagaimanapun, kekuasaan dan kebudayaan memang selalu mengalami perubahan. Feodalisme dikalahkan dengan liberalisme. Kekuasaan dan rejim-rejim Totaliter telah tutup buku. Kini kekuasaan bukan lagi sekam-sekam gelap yang menggiring histeria massa atas pidato-pidato politik. Kekuasaan yang menghegemonik tengah dikikis evolusi sosial yang membawa masyarakat menuju kesadaran individual, dan masyarakat yang semakin rasional. Kini kita bisa jadi telah memasuki suatu era yang diimajinasikan Jacques Derrida dan Michel Foucault, yaitu suatu masyarakat yang mendekonstruksi stukturalisme. Dalam bukunya Dicipline and Punish dan The History and Sexuality, Foucault berpendapat bahwa tak ada ide kebenaran yang universal dan abadi. Ia sebagaimana juga Friedrich Nietzsche beranggapan bahwa ilmu pengetahuanlah yang berkuasa dan menjadi senjata untuk merebut dan mempertahankan kekuasaan dan kebudayaan. Foucault terus menunjukkan bagaimana kekuasaan di kendalikan oleh wacana, dan bagaimana wacana akan selalu berakar dalam kekuasaan. Ia berpendapat bahwa kekuasaan bukanlah milik penguasa (John Storey, Penerbit Qalam, 2003 : 135) maka ketika ketika gelombang perubahan menafikan keabadian-keabadian, wacana tentang struktur menjadi berantakan dan muncul menjadi begitu beragam.

Alvin Toffler dalam bukunya Future Shock memperkenalkan tentang adanya krisis besar dalam masyarakat industri. Bahwa kini struktur negara telah terdekonstruksi, media massa mengalami demassifikasi, gaya hidup dan nilai telah begitu beragam. Analisis-analisis politik dengan bentuk-bentuk lama sudah tak berlaku lagi. Istilah seperti "sayap kanan' dan 'sayap kiri' atau 'liberal' dan 'konservatif' telah tercerabut dari makna umumnya.

Dalam masyarakat industri yang semakin rasional pada akhirnya wacana yang berkembang adalah negosiasi-negosiasi antar peradaban. Apalagi arah tanda-tanda zaman seperti yang diilustrasikan Francis Fukuyama tentang sebuah anti klimaks, bahwa sejarah telah berakhir dengan sebuah kemenangan bernama kapitalisme. Maka tak dapat dipungkiri mau tak mau sejarah memang sedang melangkah kesana. Keberagaman sistem dunia akhirnya harus menuju muara yang membangun negosiasi, yaitu sebuah relasi yang saling interdepedensi. Kapitalisme harus diakui mampu menjadi katalisator dari pelbagai dinamika dan menjadikan semuanya saling terhubung dan tersinergi, yang akhirnya menjadi arus besar yang tak terelakkan lagi. Kapitalisme memang sebuah pemenang, setidaknya sebagai sebuah ideologi dan praktek sosial, kapitalisme berhasil lolos dari pelbagai kontradiksi sosial.

Sebagaimana Trotsky, bahwa setiap kelas yang menjadi pemenang dan berkuasa pasti menciptakan budayanya sendiri, maka kapitalisme juga kini memiliki budayanya sendiri. Kapitalisme yang lahir dari masyarakat industri, memproduksi sebuah kultur yang tak bisa di lepaskan dari mekanisme industrialisasi, yaitu kalkulasi-kalkulasi semacam modal, pasar, konsumsi, teknologi, dan informasi. Kebudayaan yang timbulpun tak lepas bersandar dari faktor-faktor tersebut.

Menurut Hikmat Budiman (2002 : 238) budaya yang dihasilkan oleh masyarakat industri telah membuat satu pergeseran, dari kreasi kultural menjadi kreasi produksi yang mereproduksi kebudayaan. Kebudayaan tidak lagi tumbuh dari proses-proses kultural yang berkembang di masyarakat, evolusi dan dialektika sosial yang menciptakan kebudayaan menjadi terbantahkan dalam masyarakat kapitalis, yaitu ketika kebudayaan dapat mereka ciptakan seperti halnya mereka membuat barang-barang produksi. Relasi antara kebudayaan dengan barang-barang produksi sesungguhnya sudah lama diisyaratkan Marx dengan dialektika materialismenya. Baginya produksi kehidupan material mampu mengkondisikan kehidupan budaya, sosial, politik, dan intelektual. Ia bukan tentang kesadaran manusia sebagai penentu eksistensinya, tetapi sebaliknya, realitas sosiallah yang menentukan kesadaran manusia yang ada di dalamnya. Sebagaimana juga filsuf Prancis Lous Althusser, ideologi bukan sekedar hanya pelembagaan ide-ide, tetapi juga sebagai suatu praktik material. Donnez-moi de la matiere et du mouvement, je ferai un monde (Berilah aku materi dan gerak, maka akan kuciptakan dunia) demikian kata Descartes.

Apalagi bagi para kapitalis, mereka mampu menciptakan suatu kondisi saling ketergantungan antara barang produksi dan budaya. Yaitu budaya yang selalu membutuhkan barang-barang produksi, dan barang-barang produksi yang dapat terus berproduksi karena ada suatu budaya yang selalu membutuhkannya.

"Barang-barang material," kata Max Weber yang tulisnya di tahun 1901, "telah memperoleh kekuatan yang makin naik dan akhirnya tak dapat ditawar-tawar terhadap kehidupan manusia. Kekuatan semacam ini belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah manusia."

Maka dalam kebudayaan kapitalis ini telah terjadi sebuah mutasi kebudayaan, yaitu pencerabutan dari akar-akar ekologis, dari lingkungan flora dan fauna, menuju lingkungan billboard dan papan-papan iklan berikut segenap manipulasi kebudayaan massa (Bre Redana, 2002: 280). Kebudayaan massa, itulah yang diciptakan oleh kapitalisme. Budaya yang juga sering di sebut sebagai budaya pop atau budaya popular ini (meski dalam beberapa wacana masih di perdebatkan) tumbuh menjadi kecenderungan global, seiring dengan globalisasi yang lahir dari kapitalisme.

Globalisasi memang menjadi konsekuensi dari kapitalisme, sebab industrialisasi saat ini bukan lagi konsep industri tradisional, ketika aktivitas produksi hanya di dasarkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, yang berpijak pada hukum tawar menawar. Tetapi lebih dari itu, industrialisasi pada masyarakat kapitalis menjadi aktivitas produksi yang jauh lebih besar, yang melampaui hukum permintaan. Barang-barang yang diproduksi tak lagi tertampung oleh batas-batas geografis negara-negara. Ekspansi global tak terelakkan lagi. Dan bagi kaum kapitalis mereka tidak mau tertidur menunggu Godot dalam gudang bersama barang yang diproduksi berlebihan. Sehinggalah terciptalah kebudayaan massa, yang selalu menantikan barang produksi itu seperti laiknya rakyat Afganistan yang kelaparan, menanti kapal-kapal makanan Amerika.

Budaya massa adalah budaya yang terangkut mobil kapitalisme. Masyarakat dalam kebudayaan ini adalah masyarakat yang berbasis materialisme dengan wujud konsumerisme. Kebudayaannya berdialektika dengan realisme-realisme. Apalagi dengan kemajuan teknologi informasi yang semakin pesat, kebudayaan massa sesungguhnya telah masuk hilir mudik dalam rumah tangga kita. Ketika bangun pagi kita nonton televisi, di jalan raya baca koran sambil melewati papan-papan iklan, malam hari nyetel radio sambil muter internet, menggambarkan bahwa negosiasi dan dialektika kebudayaan berlangsung setiap hari. Batas tak lagi jelas ketika nasion tidak lebih sebagai komunitas-komunitas terbayang (Ben Anderson), dan peradaban-peradaban besar menjadi sesuatu yang sederhana ketika kita mengunyah dodol garut sambil nyeruput Coca-cola.

Di dalam budaya massa terdapat suatu konsumsi aktif atas penciptaan ruang kebudayaan terhadap produk-produk industri. Seiring dengan kepentingan kapitalisme, budaya massa berkembang menjadi universalisasi budaya. Budaya tersebut bergulat dan bernegosiasi antar budaya yang pada akhirnya tercipta sebuah keseimbangan yang kompromistis, sebuah titik temu kebudayaan. Yang terjadi adalah pemunculan kepentingan dominan, dan menghindarkan diri terhadap resistensi antar kebudayaan. Pergulatan kebudayaannya pun tidak berlangsung atas pencarian akar nilai-nilai seperti rasisme, gender, majikan-buruh, atau materialisme dan immaterialisme. Melainkan dalektika itu berlangsung pada seleksi teks dan praktek konsumsi, seleksi barang-barang produksi. Yang terkadang itu sengaja diarahkan dan diciptakan oleh para pemilik alat-alat produksi.

Meskipun kemudian proses seleksi atas aktifitas konsumsi ini, menurut teori hegemoni Neo-Gramscian bukan berarti mencerabut kemungkinan adanya idealitas pemaknaan atas material teks dan praktek. Sehingga dalam proses seleksi ini ada dialektika antara massa dan produsen, yaitu dialektika antara proses produksi dan aktifitas konsumsi. Ada proses tawar menawar antara keduanya.

Maka ketika budaya massa berkembang menyelimuti ruang kebudayaan, kenyataan adanya sebuah hegemoni kebudayaan pun tak terhindarkan lagi। Setidaknya telah terjadi pergeseran global wacana berbudaya. []

Khairul Anom

Tidak ada komentar: